WARGANET PROTES EKONOMI PAS-PASAN DESIL 10, BEGINI KATA BPS
Jagat maya heboh DESIL 10 padahal ekonomi pas-pasan, keluh kesah warganet direspon oleh BPS
JAKARTA - Keluhan warga terkait Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN kembali ramai. Sejumlah orang mengaku kaget setelah mengecek data mereka dan mendapati masuk ke desil 10. Padahal menurut pengakuan, kondisi ekonomi mereka masih jauh dari kata sejahtera. Ada yang gaji UMR, masih ngontrak, dan harus memutar uang tiap akhir bulan.
Unggahan soal ini viral di media sosial. Banyak yang merasa sistem pemeringkatan DTSEN tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
"Gaji saya 3 jutaan, masih ngontrak, cicilan ada. Tapi pas cek DTSEN masuk desil 10. Berarti saya orang kaya?" tulis salah satu warganet.
BPS LURUSKAN :
Desil Bukan Patokan Penghasilan
Menanggapi keramaian itu, BPS turun tangan meluruskan. BPS menegaskan bahwa desil di DTSEN tidak bisa disamakan dengan nominal gaji atau besaran pendapatan.
Kepala BPS menjelaskan, desil adalah metode ranking. Seluruh keluarga di Indonesia diurutkan dari kondisi paling rendah hingga paling tinggi berdasarkan data sosial ekonomi, lalu dibagi ke dalam 10 kelompok.
"Jumlah keluarga di tiap desil dibuat relatif sama. Desil 1 isinya 10% keluarga dengan peringkat terendah. Desil 10 isinya 10% keluarga dengan peringkat tertinggi," jelas BPS.
Dengan sistem ini, tidak ada batas pasti berapa rupiah yang harus dimiliki untuk masuk desil tertentu. Yang ada hanya posisi relatif dibanding keluarga lain se-Indonesia.
PENILAIANNYA TIDAK HANYA GAJI
Kesalahpahaman muncul karena banyak warga mengira desil hanya dihitung dari penghasilan. Padahal BPS menggunakan banyak indikator.
Beberapa variabel utama yang dipakai BPS antara lain:
- Kondisi tempat tinggal : jenis lantai, dinding, sumber air, dan sanitasi
- ASET : kepemilikan kendaraan, tanah, rumah, dan barang elektronik
- PENDIDIKAN : jenjang pendidikan kepala keluarga dan anggota rumah tangga
- PEKERJAAN : jenis pekerjaan, status pekerjaan, dan sektor usaha
- KESEHATAN : akses ke fasilitas kesehatan dan jaminan kesehatan
- KEPEMILIKAN USAHA : apakah memiliki usaha mikro, kecil, atau lainnya
Karena penilaiannya multidimensi, bisa saja seseorang dengan gaji kecil tapi punya rumah sendiri, kendaraan, dan pendidikan tinggi masuk desil lebih atas dibanding orang dengan gaji lebih besar tapi tidak punya aset.
DI DALAM DESIL 10, KESENJANGANNYA EKSTREM
Yang membuat publik makin terkejut adalah penjelasan BPS soal isi desil 10 itu sendiri.
BPS menyebut di dalam desil 10 terdapat rentang yang sangat lebar. Di satu sisi ada keluarga ultra-rich dengan aset dan pendapatan mencapai triliunan rupiah. Di sisi lain ada keluarga yang pendapatannya hanya beberapa juta rupiah per bulan, namun karena punya aset dan indikator lain yang lebih baik dari 90% penduduk, mereka tetap masuk kelompok tersebut.
"Ini justru menunjukkan betapa lebarnya jurang ketimpangan di Indonesia. Kelompok 10% teratas itu isinya sangat heterogen," kata BPS.
Artinya, masuk desil 10 tidak otomatis berarti hidup bergelimang harta. Bisa jadi hanya berarti kondisi Anda sedikit lebih baik dibanding mayoritas penduduk lain dari sisi gabungan indikator.
TUJUAN DTSEN UNTUK PENYALURAN BANTUAN
BPS menegaskan DTSEN dibuat untuk menggantikan data kemiskinan sebelumnya agar penyaluran bantuan sosial lebih tepat sasaran. Data ini akan dipakai pemerintah pusat dan daerah untuk menentukan siapa yang berhak menerima program seperti PKH, BPNT, KIS, hingga subsidi lainnya.
Karena itu, BPS meminta masyarakat mengecek data secara mandiri melalui aplikasi Cek Bansos atau kantor desa/kelurahan. Jika merasa datanya tidak sesuai, masyarakat bisa mengusulkan perbaikan lewat musyawarah desa.
"Silakan ajukan sanggahan jika memang ada data yang keliru. DTSEN ini dinamis dan akan terus diperbarui," tutup BPS.
APA ITU DESIL?
Desil adalah pembagian kelompok menjadi 10 bagian sama besar setelah data diurutkan. Jadi desil 10 = 10% teratas, desil 1 = 10% terbawah.
Cek DESIL mu disini
https://dtsen-form.bps.go.id/login