ACEH BESAR - infomasuk Peringatan Hari Damai Aceh ke-20 yang dipusatkan di Meuligoe Wali Nanggroe, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (15/8/2026), berakhir ricuh.

Kericuhan terjadi sesaat setelah acara seremonial selesai. Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar, bersama sejumlah pejabat Forkopimda sudah berada di dalam helikopter yang rencananya akan bertolak ke Kabupaten Aceh Utara.

Di saat bersamaan, sekelompok massa yang didominasi ibu-ibu berseragam merah-merah berupaya mengejar helikopter tersebut. Mereka berteriak meminta agar bendera Bintang Bulan segera dikibarkan.

“Lon perle jinoe bendera Bintang Bulan beuk jinoe laju,” teriak salah seorang peserta aksi.

Aparat TNI dan Polri yang berjaga di lokasi langsung melakukan pengamanan ketat. Berkat pengawalan, kericuhan tidak meluas dan Wali Nanggroe berhasil diterbangkan ke lokasi acara berikutnya.

REFLEKSI 20 TAHUN MoU HELSINKI

Tanggal 15 Agustus diperingati sebagai Hari Damai Aceh, menandai penandatanganan MoU Helsinki 2005 antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah RI. Perjanjian itu mengakhiri konflik bersenjata selama puluhan tahun di Aceh.

Di berbagai daerah lain, peringatan berlangsung khidmat. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa "Mualem", bersama Wali Nanggroe menegaskan bahwa masih banyak butir MoU Helsinki yang belum sepenuhnya diimplementasikan. 

Beberapa poin yang disorot di antaranya soal pengelolaan sumber daya alam, pengakuan simbol-simbol Aceh, serta penyelesaian hak-hak korban konflik.

Kapolres Pidie sebelumnya juga telah mengimbau agar momentum Hari Damai Aceh dijadikan pengingat untuk menjaga persatuan dan stabilitas daerah, dengan menggandeng ulama dan tokoh masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di Meuligoe Wali Nanggroe sudah kembali kondusif.