Sebelum menjawab itu, kenalan dulu ya. Saya Putri, saya lahir di Muncar, besar di beberapa tempat dan sekarang kembali sering main ke Muncar.

Beberapa waktu lalu, Muncar khususnya kawasan pelabuhan ikan, kembali ramai di perbincangkan. Salah satunya setelah ada postingan dari Sungai Watch mengenai tumpukan sampah di aliran sungai Kalimati. Tidak berhenti di situ, Sungai Watch bersama sejumlah stakeholder pemerintah maupun swasta kemudian melakukan kegiatan bersih-bersih di lokasi yang sama.

Meski tidak ber-KTP Muncar, namun fakta dan peristiwa itu sungguh membuat saya berpikir "Oya ding" dan kemudian "oyaya". Ditambah beberapa waktu ini saya dan suami sering berkunjung di kawasan pelabuhan. Suami sebenarnya punya lebih banyak cerita soal sungai. Ia bahkan beberapa kali terhubung dengan teman-teman Sungai Watch terkait beberapa acara. Setidaknya, selama punya dua anak, kami berusaha tidak membuang popok ke sungai. Pilihannya antara dibedel atau dibakar. Tidak ideal memang, tetapi setidaknya sungai tidak menjadi tempat pembuangan.

Kembali ke masalah Muncar, kondisi Muncar yang terkesan penuh sampah ini sebenarnya sangat paradoks dengan kondisi eksis yang ada di Muncar. Sebagai kawasan sentra penghasil ikan terbesar di Banyuwangi,  juga banyaknya pabrik yang beroperasi di kawasan itu. Perputaran ekonomi jelas sangat besar. Namun di sini justru memunculkan pertanyaan "Mengapa persoalan sampah masih begitu terlihat?” seharusnya masalah sampah bisa terselesaikan.

Penanganan sampah dari tahap pemahaman pendidikan hingga teknis bukankah seharusnya bisa teratasi dengan segala piranti yang ada. Muncar dengan segala kekayaan dan potensi meliputi perusahaan, ada program CSR, ada pemerintah, ada komunitas, dan tentu ada masyarakat. Lantas, mengapa persoalan ini masih berulang?”

Kondisi sampah ini juga semakin paradoks dengan geliat kampanye pariwisata yang digagas sejak era bupati Abdullah Azwar Anas.  Dengan kekayaan meliputi ribuan kapal, tradisi, keragaman pengolahan hasil tangkapan. Seharusnya Muncar menjadi salah satu mercusuar pariwisata, yang nanti salah satu dampak turunan adalah kebersihan yang terjaga. 

Atau jangan-jangan selama ini kita (terutama pihak berwenang) memang belum serius melihat Muncar sebagai sebuah kawasan yang perlu ditata secara utuh?

 Keraguan ini bukan tanpa alasan. Coba anda bayangkan atau coba praktikkan. Ketika anda berkunjung ke Muncar dan ingin menikmati sajian kuliner bahari. Di manakah tempat yang menyediakan itu dengan sentuhan pariwisata?

Mencari kapal di Muncar sangat mudah. Mencari ikan di Muncar gampang. Tetapi menemukan tempat makan bahari, yang menyajikan kuliner hasil laut dengan vibes pariwisata di mana? Angele setengah mati.

Di titik inilah saya merasa ada mata rantai yang belum tersambung. Dan Muncar masih dilihat sebagai penghasil ikan saja. Belum menjadikan Muncar sebagai destinasi bahari yang komprehensif. Sisi sisi human interest, kebudayaan belum diangkat secara optimal dan disambungkan. Padahal, kawasan ini sudah lengkap. Apapun berkaitan dengan penangkapan ikan hingga produk turunannya ada. Wisatawan bisa melihat orang menurunkan ikan, proses transaksi, pengolahan mulai dari gerih hingga pindang di satu kawasan. Namun, tampaknya itu semua kurang mendapat sentuhan pihak terkait. Kalau pun ada mungkin hanya saat penyelenggaraan tradisi petik laut.

Tulisan ini tidak dalam maksud menyoroti Muncar sebagai objek yang salah. Tetapi lebih pada bagaimana peran pemerintah dalam mengayomi dan melakukan edukasi secara komprehensif terkait optimalisasi potensi yang sudah ada ini.

Jika mengacu pengelola destinasi wisata yang lain di Banyuwangi, seperti Pulau Merah. Sebenarnya menjadikan Muncar bersih berbinar itu bukan perkara sulit. Pemda dengan segala elemen yang dimiliki sangat bisa membuat sulapan untuk mengubah Muncar menjadi aslinya, yang lebih baik dan visitable bagi wisatawan.

Dulu, saat pulau Merah belum seperti sekarang ini, juga banyak yang meragukan atas visi Bupati saat itu (Abdullah Azwar Anas). Dan nyatanya, semua bisa dilakukan. Apalagi jika estafet itu dilanjutkan orang terdekatnya, yang paham cara kerja bupati sebelumnya.

Saya tentu tidak mengetahui seluruh persoalan Muncar. Bisa jadi banyak hal sudah dikerjakan, hanya belum saya lihat. Kalau demikian, saya justru senang dikoreksi.

Dan ini perlahan menjawab pertanyaan yang Sebab pertanyaan saya sederhana: kalau Muncar sudah memiliki hampir semua bahan untuk menjadi destinasi bahari, mengapa kita belum bisa merangkainya menjadi sebuah pengalaman yang utuh?

Saya tentu tidak mengetahui seluruh persoalan Muncar. Bisa jadi banyak hal sudah dikerjakan, hanya belum saya lihat. Kalau demikian, saya justru senang dikoreksi. Sekaligus  perlahan  menjawab rasa penasaran "Muncar sudah memiliki hampir semua bahan untuk menjadi destinasi bahari, mengapa kita belum bisa merangkainya menjadi sebuah pengalaman yang utuh?"

Mungkin persoalannya bukan Muncar kekurangan potensi. Mungkin kita yang belum selesai membaca potensinya. (BP)