KARO, SUMATERA UTARA — Program Makan Bergizi Gratis [MBG] kembali memakan korban. Lebih dari 200 siswa SMA di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap menu MBG pada Jum'at [14/8].

Insiden ini menjadi ujian terbaru bagi komitmen zero tolerance Badan Gizi Nasional [BGN] di bawah kepemimpinan Kepala BGN Sudaryono terhadap kasus keracunan pangan.

KRONOLOGI DARI SARAPAN HINGGA RAWAT INAP

Kejadian bermula pada pagi hari saat paket MBG dari SPPG didistribusikan ke sekolah seperti biasa. Menu terdiri dari nasi, lauk, sayur, dan buah. Tidak ada keluhan saat makanan dibagikan di jam istirahat pertama.

Petaka mulai muncul 2-3 jam kemudian. Sekitar pukul 10.00 WIB, 5-10 siswa pertama kali melapor ke UKS dengan keluhan mual dan sakit perut. 

Dalam waktu 30 menit, jumlah siswa yang mengeluh bertambah drastis. Menjelang siang, gejala meluas ke ratusan siswa. Gejala dominan yang dilaporkan adalah mual muntah, kram perut, pusing, lemas, dan sebagian mengalami diare ringan.

Melihat situasi darurat, pihak sekolah langsung menghubungi Puskesmas dan orang tua. Beberapa siswa dengan kondisi melemah segera dilarikan ke UGD RSUD Kabanjahe dan klinik terdekat menggunakan ambulans.

TIM MEDIS DAN INVESTIGASI TURUN

Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Karo bersama petugas Puskesmas tiba di lokasi sekitar tengah hari. Mereka melakukan skrining dan pendataan. 

Hasil sementara mencatat lebih dari 200 siswa terdampak. Belasan di antaranya harus mendapat infus dan perawatan intensif. Sisanya dipulangkan untuk observasi di rumah selama 1-2 hari. Kegiatan belajar di kelas terdampak pun dihentikan sementara.

Bersamaan dengan penanganan medis, petugas dari Dinkes Karo, BPOM, dan BGN langsung mengamankan barang bukti. Semua sisa menu MBG hari itu, mulai dari nasi, lauk, sayur, hingga air minum disita. Tim juga melakukan swab pada peralatan masak dan lingkungan dapur SPPG.

Sampel kini sudah dikirim ke laboratorium. Hasil uji mikrobiologi ditargetkan keluar dalam 7-10 hari kerja.

BGN : Dapur Ditutup Sementara, Biaya Ditanggung Negara

Menanggapi kejadian ini, *Kepala BGN Sudaryono* langsung memerintahkan penghentian sementara operasional SPPG yang mendistribusikan MBG ke sekolah tersebut.

"Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Dapur tidak boleh beroperasi lagi sebelum lolos audit keamanan pangan. Kami tidak mentolerir kelalaian," tegas Sudaryono.

Sudaryono juga memastikan seluruh biaya perawatan siswa terdampak ditanggung BGN melalui koordinasi dengan Pemkab Karo. Tim investigasi gabungan telah diterjunkan untuk menelusuri titik kritis masalah.

BGN juga kembali memperketat pengawasan: mulai dari keamanan pengantaran, batas waktu distribusi, uji organoleptik wajib, hingga audit berkala dapur SPPG.

ORANG TUA JADI CEMAS,

MINTA KEPASTIAN DARI SEKOLAH

Para orang tua di Karo mengaku cemas dan meminta jaminan keamanan sebelum MBG dilanjutkan. Pihak sekolah berharap ada SOP yang lebih jelas terkait penanganan Kejadian Luar Biasa [KLB] dan keterbukaan hasil uji lab.

Hingga malam ini, sebagian besar siswa dilaporkan sudah membaik. Beberapa masih menjalani rawat jalan. Pemkab Karo dan BGN akan menggelar evaluasi SOP bersama kepala sekolah dan pengelola SPPG dalam waktu dekat.