Londo Ireng merupakan Saudara Sebangsa yang Membawa Senapan Penjajah

Sa’at itu Malam yang sepi berubah mencekam.

Dari kejauhan, pasukan bersenjata mendekat.

Namun bukan kulit putih yang tampak, melainkan wajah-wajah sebangsa:

hitam legam, rambut ikal, mata yang sama gelapnya dengan rakyat yang mereka hadapi. Mereka datang bukan sebagai kawan, melainkan sebagai tentara marsose. Mereka inilah yang dikenal sebagai “Londo Ireng” pribumi yang menjadi perpanjangan tangan militer Belanda.

Asal Usul Londo Ireng

Istilah “Londo Ireng” berakar dari bahasa Jawa: Londo berarti Belanda, Ireng berarti hitam. Awalnya, istilah ini merujuk pada tentara Afrika (dari Ghana dan Suriname) yang didatangkan Belanda pada abad ke-19. Namun, dalam perkembangannya, sebutan itu melekat pada pribumi yang direkrut menjadi tentara kolonial KNIL.

Darah Saudara di Perang Aceh & Jawa

Perang Aceh (1873–1914) menjadi panggung paling berdarah keterlibatan Londo Ireng. Mayoritas pasukan Marsose pasukan gerak cepat Belanda berasal dari Jawa, Ambon, Menado, Bugis, dan Batak. Foto terkenal di Sigli tahun 1897 memperlihatkan pasukan marsose berpose di atas mayat rakyat Aceh. Senyuman mereka bukan tanda kemenangan, melainkan wajah yang dipaksa tunduk pada perintah.

Londo Ireng sa’at berpose lengkap dengan seragam dan senjata

Mengapa Mereka Mau?

Alasannya pahit, namun nyata: Gaji tentara KNIL 8–10 kali lipat dari petani biasa. Dijanjikan seragam, jatah makan, tempat tinggal, bahkan barang mewah: sabun Eropa, rokok, kain batik. Banyak pula yang direkrut secara paksa, bahkan dengan ancaman kekerasan.

Pelajaran untuk Zaman Kini

Jika dulu Belanda mempertahankan kekuasaan lewat senapan di tangan pribumi, kini bentuknya berbeda. Kekayaan alam, tambang, laut, dan tanah kita bisa dijual oleh orang dalam negeri sendiri demi kekuasaan. Penjajahan modern lebih rapi, lebih halus, dan para pengkhianatnya berbalut jas serta dasi.

Karena benar adanya: sejarah yang tak dipelajari akan selalu berulang. (Berbagai_Sumber_InfoMasuk)