RYAN ACHMADI (sekretaris Lembaga Konservasi Hutan Bumi Blambangan & pokmas peduli sungai Setail)

Banyuwangi, 15/10/2026

Hutan bukan sekedar kumpulan pohon. Ia adalah paru-paru, tandon air, pendingin bumi, dan rumah bagi kehidupan. Ketika satu pohon besar tumbang, yang hilang bukan hanya kayunya, tapi keseimbangan ekologi yang dibangun ratusan tahun.

Hari ini kita merasakan akibatnya secara langsung. Pemanasan global bukan lagi isu di seminar. Ia nyata. Deforestasi yang masif telah melucuti pelindung bumi. Hutan-hutan yang dulu lebat kini gundul karena kerakusan manusia yang menebang tanpa menanam, mengeruk tanpa merawat. Ketika El Nino datang, dampaknya menjadi berlipat ganda. Mata air mengering, suhu bumi naik ekstrem, gagal panen di mana-mana, dan kebakaran hutan menjadi langganan tahunan. Ini adalah peringatan keras dari alam.

Maka, menanam pohon besar dan merawatnya bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban ekologis.

BELAJAR DARI METODE LAMA: Kearifan VOC yang Dilupakan

Jauh sebelum istilah agroforestri populer, para petani di negeri ini sudah diajarkan sistem kebun yang cerdas. Pada masa VOC, bahkan hingga era tanam paksa, Belanda menerapkan sistem kebun campuran untuk komoditas ekspor.

Mereka tidak menanam kopi secara monokultur di lahan terbuka. Mereka menanam kopi di bawah naungan pohon-pohon besar. Pohon peneduh ditanam terlebih dahulu, baru tanaman kopi di sela-selanya. Tujuannya jelas: kopi adalah tanaman yang butuh naungan, tidak tahan terik langsung, dan butuh kelembaban terjaga.

Metode itu terbukti berhasil menjaga kesuburan tanah, menahan erosi di lereng pegunungan, dan menjaga mata air tetap hidup. Tanah tidak cepat kering, humus terjaga, dan petani bisa panen kopi sekaligus kayu bertahun-tahun kemudian. Itu adalah bentuk konservasi yang dipadukan dengan ekonomi. Sayangnya, metode kearifan itu kini banyak ditinggalkan demi mengejar keuntungan cepat dengan menebang semua pohon peneduh.

POHON PENEDUH, PENJAGA KEHIDUPAN KOPI DAN AIR 

Petani kopi hari ini seharusnya mencontoh kembali metode tersebut. Kopi tanpa pohon peneduh adalah kopi yang rapuh. Ia akan menguras air tanah dan mati saat kemarau panjang.

Beberapa pohon keras yang ideal sebagai peneduh sekaligus penyerap dan penyimpan air adalah:

1. Mahoni:

Akarnya dalam dan kuat, mampu menembus lapisan tanah keras untuk menyimpan air, kayunya bernilai ekonomi tinggi.

2. Lamtoro Gung:

Selain sebagai peneduh, daunnya adalah sumber pupuk nitrogen alami terbaik untuk menyuburkan tanah kopi.

3. Sukun:

Pohon kehidupan. Akarnya super penyerap air, buahnya sumber pangan, daunnya bisa untuk pakan ternak.

4. Beringin & Bambu:

Raja penyimpan air. Satu pohon beringin dewasa mampu menjaga mata air untuk satu desa. Bambu adalah penahan longsor terbaik

5. Aren & Petai:

Pohon serbaguna. Aren menjaga lereng dan menghasilkan nira, petai memberi nilai ekonomi tambahan bagi petani.

Menanam pohon-pohon ini di kebun kopi berarti petani menabung air, menabung kesuburan, dan menabung untuk masa depan anak cucu

Upaya penyadaran akan pentingnya pohon besar ini harus digalakkan dari tingkat paling bawah. Dari TK yang diajarkan menanam bibit sejak dini, SMP yang diajarkan membuat persemaian, hingga kelompok tani yang diajak rembug hutan. Kesadaran tidak bisa tumbuh sendiri.

Semua pihak bertanggung jawab atas hutan kita. Bukan hanya petani, bukan hanya aktivis, tapi kita semua.

Terlebih lagi, pemerintah saat ini memikul tanggung jawab paling besar atas kerusakan ekologi yang disebabkan oleh kerakusan manusia. Pemberian izin tambang dan perkebunan skala besar yang membabat hutan tanpa rehabilitasi yang jelas adalah sumber utama bencana ekologis hari ini. Negara tidak boleh hanya hadir saat panen pajaknya, tapi absen saat rakyat kebanjiran dan kekeringan.

Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada ekologi: wajibkan agroforestri, hentikan alih fungsi hutan lindung, dan dukung gerakan rakyat menanam pohon keras.

Menanam satu pohon besar hari ini, mungkin baru akan dirasakan manfaatnya 10 tahun lagi. Tapi jika tidak kita tanam hari ini, 10 tahun lagi kita tidak akan punya apa-apa lagi untuk diselamatkan.

Mari tanam,

Mari rawat.

Hutan adalah masa depan kita semua (RA)